Un poco de humor indonesio en el idioma original y en español.

Balada dari Tono dan Tino

Ada dua anak kembar namanya Tono dan Tino. Tono mempunyai sebuah perahu dayung yang sudah sangat tua. Kok kebetulan suatu hari istrinya si Tino itu meninggal bersamaan dengan hari tenggelamnya perahu dayung si Tono itu. Beberapa hari kemudian seorang wanita tua melihat Tono, dan secara tidak sengaja salah mengenalinya sebagai Tino yang kehilangan istrinya itu. Kata wanita itu kepada Tono,
"Saya turut sedih atas kehilangan anda. Anda pasti merasa sedih."
Nah si Tono mengira bahwa wanita itu berbicara tentang perahu dayungnya itu, menjawab "Sebenarnya sih saya bisa dibilang malah senang karena bisa menyingkirkannya. Dia sudah amat tua sekali bahkan sudah jelek dari pertama kalinya. Bagian bawahnya sudah lapuk dan berbau amis sekali. Bagian punggungnyapun sudah sangat jelek dan lubang di bagian depannya sudah sangat lebar. Setiap kali aku menggunakannya, lubangnya bertambah besar dan dia bocor tidak karuan. Saya kira yang mengakhirinya adalah ketika saya menyewakan dia kepada 4 orang pemuda yang sedang bersenang-senang tempo hari. Saya sudah memperingatkan mereka bahwa dia sudah tidak begitu enak dipakai tapi mereka masih juga mau menggunakannya. Mereka berempat mencoba masuk ke dalam bersamaan dan akhirnya dia terbelah persis di tengah- tengah."
Wanita tua itupun pingsan…

Lo mismo en español.

Balada de Tono y Tino.

Habia dos hermanos gemelos, uno se llamaba Tono y el otro se llamaba Tino. Tono, tenia una barquita muy vieja, muy vieja. Un dia y por esas casualidades de la vida, la mujer de Tino falleció y, ese mismo dia la barquita de Tono se hundió.
Al cabo de unos días, una señora que pasaba por alla, vio a Tono, y confundiéndole con Tino, le dio el pesame, y le comento que seguramente estaría muy triste por la perdida . Tono creyendo que se lo decía por el hundimiento de su barquita, le contestó, bueno, el caso es que ya era muy vieja , desde el primer momento el material no era bueno y además la parte baja ya estaba pudriéndose y le olia bastante mal. La parte trasera ya estaba muy fea y el agujero de delante era cada vez mas grande y además goteaba. Vinieron cuatro jóvenes que querían divertirse con ella, yo se la deje, pero ya les dije que con cuidado, que no se les ocurriera montarse a los cuatro a la vez. No me hicieron caso, y se partió justo, justo por la mitad.
Al oir esto, la señora se desmayo fulminantemente.

Para que veais como se las gastan los indonesios con su peculiar humor.

8 comentarios :

Poppy dijo... 27 de julio de 2008, 5:11

wanita tua yg malang. hahahaha lucu! Ternyata jadi orang kembar susah juga ya?

novi dijo... 27 de julio de 2008, 9:13

Huahahahahaha ya ampun om dapet cerita darimana sih?...hahahahahaha really...really funny!!!

Andrea y Pierre dijo... 30 de julio de 2008, 18:34

Hola Gildo!
sabes? hoy se me dio (sagitariana como soy) de pasear por la casa de los amigos sagitarianos...

Me gusta mucho tu lugar, ademas me habla de cosas que no conozco, de lugares que imagino y que sueño conocer algun dia.

te mando un abrazo grande.
andrea

Soe dijo... 30 de julio de 2008, 20:03

TQ Pak Gildo for stopping by my blog.
Walaupun tdk mengerti bahasa spanish, tp aku senang melihat foto2 di blogmu, mengingatkanku pada Indonesia tercinta.

aroengbinang dijo... 31 de julio de 2008, 2:25

Cerita lucu yang memberi inspirasi, betapa banyak kesalahpahaman terjadi, yang kadang berakibat sangat fatal, karena konteks yang salah.

Jumat lalu, saya menyapa teman lama yang namanya Umar, eh ternyata yang saya sapa Amir, saudara kembarnya. Istrinyalah yang dengan gemas mengoreksi kesalahan saya... Secara saya juga blum kenal istrinya mereka...:)

Rishardana dijo... 31 de julio de 2008, 2:48

Hehe ceritanya lucu dan nakal, saya malah belum pernah dengar.

Salam kenal dari Jakarta ya Pak :)

Novee dijo... 22 de agosto de 2008, 18:18

astagaaaaa..
ada ya cerita kaya ini..
saya pun akan pingsan juga deh..

yendoel dijo... 6 de octubre de 2008, 4:10

kalo saya wanita tua itu, mungkin mulut mangap2 kayak ikan mas koki!

 
Indonesia o así © 2008. Todos los derechos reservados. Powered by Blogger
Top